ENGLISH       INDONESIA

Kamis, 23 Oktober 2014

MELURUSKAN PEMAHAMAN YANG SALAH TENTANG BAPTISAN


Tentang Harus Lahir Baru: Injil Tidak Konsisten atau...?
Satu atau dua generasi sebelum kita mungkin tidak terlalu akrab dengan istilah “lahir baru”. Hal berbeda terjadi di generasi kita, dimana istilah ini begitu populer, khususnya di aliran-aliran baru. Kita membedakan umat kristen ke dalam dua kategori, yaitu kristen lahir baru dan kristen tidak lahir baru, dan percaya –sebagaimana Alkitab ajarkan-  bahwa kristen yang tidak lahir baru tidak akan selamat.


Tetapi saya harus mengingatkan saudara, bahwa secara huruf per huruf, sebenarnya tidak ada istilah lahir baru dalam Alkitab. Yohanes 3 : 3 yang menjadi acuan kita dalam memakai istilah ini, tidak pula memakai frasa itu, melainkan dilahirkan kembali. Dalam surat para rasul sendiri, istilah yang dipakai ada beberapa, yaitu ciptaan baru, manusia baru, manusia rohani dan beberapa yang lain.

Jadi secara hurufiah, istilah lahir baru itu tidak populer di kalangan jemaat mula-mula, melainkan memakai istilah-istilah yang dipakai para rasul. Istilah lahir baru secara hurufiah adalah kreatifitas kita saja. Akan tetapi karena esensinya cenderung sama saja dengan dilahirkan kembali atau manusia baru sebagaimana yang dipakai Alkitab, maka istilah lahir baru itu sah-sah saja. Hanya saja, istilah dilahirkan kembali lebih simpel atau spesifik daripada istilah lahir baru. Kata Dilahirkan membuat kita mudah mengerti bahwa itu bukan hasil perbuatan kita, sebab tidak ada orang yang dilahirkan oleh dirinya sendiri, melainkan oleh pihak lain. Jadi dalam frasa dilahirkan kembali, pahamnya jelas, yakni perbuatan Allah sendiri, sebuah kasih karunia. Kata lahir dalam lahir baru, kadang-kadang terjebak pada pola paham berusaha untuk lahir baru, sehingga rentan dimasuki "injil perbuatan".

Tuhan Yesus berkata, jika kita tidak dilahirkan kembali, kita tidak bisa selamat. Pernyataan tersebut Ia sampaikan di suatu kesempatan, ketika Ia berbincang-bincang dengan Nikodemus -salah seorang tokoh besar Farisi masa itu-, waktu Nikodemus datang malam-malam menjumpai Yesus.

Yohanes 3 : 3
Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa ini adalah sebuah syarat mutlak. Jika Yesus telah berkata bahwa orang yang tidak lahir baru tidak dapat selamat, kita harus berkata ya dan amen. Kita tidak mungkin mendebat-Nya. Anda mau selamat? Jika ya, anda harus dilahirkan kembali. Tidak bisa tidak.

Tapi selanjutnya, kita akan melihat berbagai kesalahan yang dianut banyak anak-anak Tuhan di seluruh dunia, yang sudah berlangsung bertahun-tahun, mengenai doktrin lahir baru ini. Doktrin ini telah dipakai sering kali oleh iblis untuk memperlebar perpecahan di dalam gereja Tuhan. Banyak gereja melabeli dirinya gereja lahir baru, dan sebagai konsekuensinya, mereka melabeli yang lain sebagai gereja bukan lahir baru. Ini adalah kalimat lain dari berkata: “mereka semua akan ke neraka”, sebab kita tahu dari perkataan Tuhan Yesus di atas, hanya orang yang lahir baru yang beroleh selamat.

Tetapi saya harus singkapkan ini demi kemurnian tubuh Kristus, bahwa pernyataan itu keluar dari kesalahan memahami arti lahir baru, dari hati yang agamawi dan sombong. Tidak ada sedikit pun kerendahan hati di hadapan Kristus terkandung dalam perkataan seperti itu. Aroma ragi Farisi yang menusuk hidung justru tercium jelas darinya.

Salah satu roh agamawi terbesar yang masuk dan berakar kuat di dalam seluruh gereja, termasuk kita yang menamai diri “gereja lahir baru” adalah roh seremonialisme. Kesalahan itu terletak pada definisi dari lahir baru itu sendiri, dimana banyak orang menjadi seremonialis, atau berpatokan pada upacara lahiriah.
Mari kita dengarkan Nikodemus sejenak. Ketika mendengar perkataan Yesus itu, Nikodemus mengerutkan dahinya sepenuh tidak mengerti. “Dilahirkan kembali? Apakah mungkin kita yang sudah tua ini bisa masuk kembali ke rahim bunda untuk dilahirkan sekali lagi?”

Sebagai pribadi yang lemah lembut dan rendah hati, tentulah Yesus tersenyum, lalu menjelaskan:

Yohanes 3 : 5
Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Oleh pernyataan Tuhan tersebut, maka kebanyakan orang akan secepat kilat menghubungkannya dengan baptisan selam. Di titik inilah roh seremonialisme seperti  mendapat pijakan kebenaran, sehingga dengan lantang mereka menyimpulkan: “Jadi, barangsiapa tidak dibaptis, dia tidak selamat!”.

Saya tidak mengerti mengapa sangat banyak orang kristen zaman sekarang berkesimpulan seperti ini. Mereka berpijak pada pikiran mereka sendiri dan tidak menyelidiki pikiran Tuhan. Jika mereka memang benar, maka itu berarti Perjanjian Baru adalah sebuah buku yang kacau balau, yang penuh pertentangan satu sama lain.

Mari kita lihat beberapa kasus. Dalam Lukas 7, dikisahkan seorang perempuan berdosa –diyakini para penafsir bahwa dia seorang pelacur terkenal- datang mengurapi kaki Yesus, hal mana membangkitkan rasa risih di hati si orang Farisi yang menjadi tuan rumah. Jelas orang Farisi ini tahu bahwa perempuan itu terkenal sebagai pelacur kenamaan. Tetapi Yesus berkata pada perempuan itu:

Lukas 7 : 50
Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu (kepada-Ku pen.) telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"
Lihat, dalam kasus ini, Yesus memastikan pada perempuan itu bahwa dia sudah selamat, karena dia datang dan percaya kepada-Nya. Mungkinkah Yesus membohongi perempuan itu? Tidak, tidak. Perempuan itu jelas-terang sudah selamat, karena Yesus yang memastikannya. Apapun perkataan Tuhan, kita harus tetap berkata ya dan amen.

Tapi, tunggu dulu: Hei, dia tidak dibaptis…?! Hei, perempuan itu belum lahir baru!
Bukankah kepada Nikodemus, Yesus menegaskan: orang yang tidak dilahirkan kembali tidak dapat selamat, dan sesuai pemahaman kita, kaum “gereja lahir baru” ini, itu artinya tidak dibaptis selam, tidak selamat? Ah, kacau. Injil penuh pertentangan!

Kita lihat kasus lainnya. Orang yang tersalib di sebelah kanan Yesus, mungkin sempat turut menyindir Yesus karena Ia lihat tidak melepaskan diri dari salib-Nya, sementara orang ramai yang ada di bawah penuh siutan mengejek dan menantang supaya Ia turun dari salib itu. Tetapi menjelang detik-detik kematiannya, ia menyadari bahwa Yesus tidak memiliki kesalahan apa-apa. Ia mengubah hatinya. Dan kepada Yesus ia berkata: ingatlah aku ketika Engkau datang sebagai Raja. Apa jawab Yesus?

Lukas 23 : 43
Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Ah, apa-apaan sih Tuhan Yesus ini? Mengapa Ia berkata pada Nikodemus bahwa orang hanya bisa selamat jika ia lahir baru -artinya dibaptis selam? Padahal kepada penjahat di sebelah kanan-Nya itu Ia berkata bahwa dia sudah selamat? Juga kepada pelacur yang mengurapi kaki-Nya di Lukas 7 : 50?Ah, mengapa Tuhan Yesus tidak konsisten?

Anda mungkin akan mulai menebak-nebak jangan-jangan perempuan pelacur dan orang tersalib di kanan Yesus itu pasti sudah lahir baru atau sudah dibaptis yang jatuh lagi dalam dosa. Hei, anda tidak memiliki bukti dengan pikiran itu. Itu pikiran daging yang menimbulkan kesesatan.

Juga lihat apa yang Paulus tuliskan:

Roma 10 : 13
Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.
Ini juga tidak konsisten dengan pendapat kita “si kaum gereja lahir baru” mengenai arti kelahiran baru, tetapi justru konsisten dengan kedua kasus orang berdosa di atas.

Jadi bagaimana yang sesungguhnya? Benarkah Injil yang tidak konsisten atau pikiran kita yang tersesat? Kita ini selamat karena lahir baru –maksudnya sudah baptis selam- atau karena percaya Yesus?

Suatu hari saya terlibat perbincangan terbuka di internet dengan seorang saudara, seorang penginjil, dimana perbincangan kami itu dibaca dan dikomentari banyak orang. Kami berdiskusi mengenai perbincangan Yesus dan Nikodemus tentang kelahiran baru. Ia menuliskan beberapa hal yang benar pada saya, tetapi saya terpaksa mengoreksi sepotong pernyataannya. Apa yang saya koreksi itu ialah ini:
Karena Roh Kudus itu adalah ROH BAPA dan ROH Tuhan Yeshua sendiri yang HAKEKATNYA adalah KUDUS (dipisahkan dari hal duniawi) dan SUCI (tidak bernoda-murni adanya), maka TIDAK MUNGKIN ROH itu masuk dan tinggal dalam manusia-manusia yang TIDAK mau dan tidak melakukan perintah-NYA untuk Lahir Baru (Yoh. 3 : 4-6).
Lalu saya menjelaskan kepada beliau apa yang salah dari potongan itu, yaitu potongan terakhir: tidak melakukan perintahNYA untuk Lahir Baru. Yang saudara kita itu maksudkan tentu saja ialah perintah untuk memberi diri dibaptis selam, sebab kemudian kami dan semua pemirsa justru berkutat di seputar doktrin baptisan. Saya harus berkata, tanpa mengurangi rasa kasih saya kepada beliau, bahwa jelas potongan itu berasal dari roh agamawi yang bernama seremonialisme. Jika anda jeli dan cermat, roh ini adalah cabang dari roh induk: “Kita selamat oleh perbuatan.” Ragi Farisi. Dan ada begitu banyak umat Allah di gereja-gereja kita yang menganut paham yang sama, yang telah kita buktikan di atas bahwa paham itu membuat Perjanjian Baru terlihat kacau balau atau saling bertentangan.

Pelbagai Pembaptisan
Baptisan adalah salah satu isu yang paling sensitif di antara gereja, sehingga topik ini akan ditutup-tutupi apabila ada pertemuan antar gereja, untuk menjaga toleransi atau perasaan pendeta sebelah. Ironisnya, di dalam gereja masing-masing, tetap saja ada pencibiran atas cara baptisan gereja lain, sehingga tetap memelihara  jurang di dalam hati masing-masing serta membuat segala senyuman persaudaraan dalam pertemuan interdenominasi menjadi seolah-olah hanya senyum kepura-puraan.

Kita terlalu lama diperbodoh oleh pikiran-pikiran daging, yang diilhami oleh si penipu, mengenai baptisan. Topik baptisan telah menjadi salah satu pintu bagi si jahat untuk mencegah terjadinya kesatuan umat Allah. Itu semua harus dihentikan. Pengertian-pengertian baptisan yang salah dan agamawi, yang  menjadi tembok pemisah antar saudara dalam Kristus harus dirubuhkan, dengan cara kembali kepada Injil yang benar. Kita tidak menciptakan sebuah kompromi, tapi mengembalikan baptisan itu sesuai dengan Injil Kristus.

Pertama-tama mengenai cara baptisan, gereja terbelah ke dalam dua cara, yakni cara percik dan cara dibenamkan. Mungkin ada cara curah atau guyur seperti ternyata acap dilakukan di masa awal gereja, tetapi saya belum pernah mendengar di zaman sekarang masih ada lagi praktek seperti itu.

Diyakini, bahwa pada zaman jemaat mula-mula saja, paling tidak satu generasi sesudah para rasul, telah ada cara curah selain cara penenggelaman dalam pembaptisan. Itulah sebabnya penulis Kitab Ibrani menulis frasa “pelbagai pembaptisan” (Ibrani 6 : 2), hal mana menimbulkan kesan kuat bahwa pada waktu itu telah terdapat lebih dari satu macam cara baptis. Kita bisa meyakini itu sebagai fakta karena tertulis pula di dalam sebuah kitab bernama Didache.

Didache adalah sebuah buku katekismus atau petunjuk teknis peribadatan –mungkin yang pertama sekali dibuat- yang sekalipun tidak dimasukkan sebagai kitab suci kanonik, tetapi penulisnya dipercaya adalah seorang yang berasal dari kalangan pemimpin gereja purba. Para peneliti berpendapat kitab itu ditulis antara tahun 70 – 120 masehi, atau sezaman dengan para rasul akhir atau generasi setelah mereka.  Belum dapat diketahui siapa penulisnya, tetapi karena ia banyak memakai kata “Wahai anakku”, dipercaya penulis kitab Didache tentulah seorang yang sudah berumur cukup sepuh serta dihormati. Bisa saja dia murid dari salah seorang rasul, yang telah menjadi tua.

Kitab ini tidak dianggap suci sehingga tidak dimasukkan sebagai bagian Alkitab, karena isi buku itu lebih sebagai petunjuk teknis tatacara ibadah atau liturgi, daripada pengajaran tentang kebenaran Kristus. Dalam pasal 7 mengenai baptisan, penulis Kitab Didache berkata begini:

Didache 7: 1-3
Berkenaan dengan pembaptisan, baptislah dengan cara seperti ini: setelah apa-apa yang kami katakan terdahulu, baptislah dengan nama Tuhan Bapa, Anak dan Roh Kudus, dengan air yang mengalir. Apabila kamu tidak mendapatkan air yang mengalir, baptislah dengan air yang lain. Bila memungkinkan, dengan air dingin (sejuk), jika tidak, dengan air panas. Jika keduanya tidak kamu dapati, maka guyurkanlah air ke kepala tiga kali dengan menyebut nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Pernyataan Kitab Didache ini memberi petunjuk kepada kita bahwa pada generasi-generasi pertama gereja sendiri, sudah ada cara lain untuk pembaptisan, yaitu cara diguyurkan.
Metode curah atau guyur dilakukan tentu untuk mengakali situasi-situasi atau keadaan kawasan-kawasan tertentu dimana sulit sekali ditemukan air yang cukup untuk merendam. Gambarannya seperti cara orang Indonesia mandi, yaitu mengguyur badan dengan memakai gayung. Meski cara mandi masyarakat Timur Tengah dan Eropa zaman itu lebih umum dengan berendam di kolam atau bak pemandian, sangat masuk akal bila pada saat-saat tertentu orang mandi dengan cara guyur, seperti di negeri kita.

Cara curah masih mudah diterima akal sehat sebagai salah satu cara permandian atau pembaptisan, sebab meski cara itu tidak mengesankan simbolisasi penenggelaman manusia lama, cara itu masih mengesankan pemandian atau pencucian manusia lama. Sementara cara percik, agaknya sulit untuk menggolongkannya masih termasuk dalam makna kata mandi apalagi penenggelaman.

Jadi, mengacu pada kata aslinya, baptizo, yang artinya membenamkan dalam air, maka metode pembaptisan yang paling tepat dengan itu jelas cara ditenggelamkan atau dibenamkan ke dalam air. Lagi pula baptisan adalah gambaran penguburan manusia lama di dalam kematian Kristus, untuk bangkit menjadi manusia baru -dilahirkan kembali- di dalam kebangkitan-Nya.

Roma 6 : 4
Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.
Tetapi memang benar bahwa kata baptizo mengalami perluasan arti sehingga bisa pula diterjemahkan memandikan, membasuh atau menyucikan dengan air. Makna intinya ialah membersihkan kotoran-kotoran dari objek dengan air sehingga benda itu menjadi bersih. Ibarat piring kotor atau bekas pakai yang dicuci dengan air sehingga kembali bersih dan siap pakai. Itulah makna yang terkandung dalam kata  baptizo. Akan tetapi seturut dengan arti yang dilambangkannya, yaitu turut dikuburkan dalam kematian Yesus Kristus, maka metode baptis yang paling tepat ialah dengan menenggelamkan, atau baptisan selam. Cara ini pula yang diteladankan Yohanes Pembaptis maupun para rasul. Yohanes Pembaptis melakukan pelayanan pembaptisannya di sungai Yordan. Tentu jika ia membaptis dengan cara guyur apalagi percik, ia bisa melakukannya di halaman rumah, tidak perlu jauh-jauh ke sungai Yordan.

Seremonialisme: Kesesatan Agamawi Mengenai Baptisan
Sekarang kita kembali kepada pernyataan Tuhan Yesus kepada Nikodemus tentang definisi “dilahirkan kembali khususnya mengenai arti lahir dari air. Kita semua percaya dan sepakat bahwa yang dimaksud oleh-Nya dengan “air” disitu adalah baptisan.

Di ayat lain, Tuhan juga mengungkapkan siapa yang selamat, siapa yang tidak.

Markus 16:16
Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Saudara,
Ayat di atas, maupun pernyataan pada Nikodemus, telah menjadi sumber dari segala kesalahan kita –yang memakai pikiran manusia-, generasi demi generasi, mengenai baptisan. Seluruhnya berangkat dari pemahaman seremonialisme, yang mengatakan bahwa kelahiran kembali baru terjadi sejak pembaptisan, sementara di sisi lain, kita semua percaya bahwa orang yang tidak lahir baru tidak akan selamat.

Sudahkah anda tahu sejarah awal munculnya praktek pembaptisan bayi?

Beberapa generasi setelah para rasul berlalu, ketika gereja dimana-mana mulai dikuasai roh agamawi, muncullah pandangan seremonialisme ini.

Mengacu pada Markus 16 : 16 dan Yohanes 3 : 5, semua orang saat itu berkata bahwa jika tidak dibaptis, tidak akan selamat, karena tidak lahir baru.

Berhubung dengan doktrin tentang dosa turunan, maka bangkitlah kegelisahan di antara jemaat, khususnya mereka yang masih memiliki anak bayi. Mereka takut bila bayi-bayi mereka tiba-tiba mati, sudah pasti masuk neraka karena tidak sempat dibaptis. Alangkah jahatnya orang tua yang mengetahui “cara untuk selamat” tetapi tidak berbuat apa-apa bagi keselamatan bayi mereka.

Jemaat-jemaat tersebut akhirnya mendesak pemimpin gereja untuk membaptis bayi-bayi mereka. Setelah usulan itu dikaji dengan mempertimbangkan Markus 16 : 16, dimana dianut pandangan bahwa tanpa baptisan tidak ada kelahiran baru (keselamatan), akhirnya gereja setuju. Sejak itu, bayi mulai dibaptis. Praktek itu segera meluas ke seluruh dunia Kristen, turun temurun, demikianlah berlangsung sampai hari ini. Tentang mengapa metode baptisnya kemudian menjadi percik dan bukan lagi selam, itu persoalan lain lagi.

Saya berbicara kepada anda yang menolak baptisan bayi sambil berkata: tanpa baptisan, tidak ada kelahiran baru.

Kita, yang mempraktekkan baptisan selam dan mempercayai bahwa baptisan adalah tanda pertobatan, menolak praktek baptisan bayi. Bayi tidak memiliki kehendak apa-apa, sementara pertobatan itu haruslah selalu datang dari kehendak sendiri. Dengan demikian, kita tidak menganggap baptisan bayi sebagai baptisan, sehingga sesungguhnya mereka belum pernah dibaptis, menurut definisi baptisan dalam Alkitab.

Tetapi karena kita juga menganut roh agamawi yang bernama seremonialisme itu, tak dapat dihindarkan, kita pun terperosok ke dalam lubang yang sama. Sama seperti mereka yang membaptiskan bayi karena percaya bahwa siapapun yang tidak dibaptis tidak bisa selamat, kita juga berkata bahwa setiap orang yang tidak dibaptis, tidak lahir baru sehingga pasti tidak selamat. Sama seperti mereka, kita menganut paham bahwa kelahiran baru (keselamatan) hanya terjadi lewat baptisan. Bila ditanya apa alasannya, sama seperti mereka, kita juga akan menunjuk Yohanes 3 : 5 dan Markus 16 : 16.

Sama saja bukan? Bahkan mereka yang membaptis bayi lebih masuk akal, karena mereka tidak ingin bayi-bayi mereka masuk neraka bila tiba-tiba mati. Bagaimana dengan bayi-bayi anda yang tidak anda baptis? Konsekuensi dari pendapat kita yang berkata: tidak dibaptis, tidak selamat, maka itu artinya bayi-bayi kita yang mati sekarang ada di neraka! Wah, wah, wah...
Jadi sekarang jelas semuanya. Orang zaman dulu membaptis bayi karena percaya bahwa siapa saja yang tidak dibaptis tidak akan selamat. Mereka menganut seremonialisme –bahwa kelahiran baru terjadi sejak manusia itu menjalani upacara baptisan. Ironisnya, para penganut baptisan selam  juga berkata hal yang sama.
Oleh doktrin Tanpa Baptisan Tiada Kelahiran Baru, ditambah dengan pengetahuan bahwa seremoni baptisan yang benar ialah baptisan selam atas keputusan sendiri, kita menyatakan bahwa hanya gereja kita yang selamat, sekaligus memastikan bahwa orang-orang seperti Martin Luther, John Wesley, Nommensen dan ratusan juta orang Kristen yang mati mendahului kita, termasuk mereka yang mati martir bagi nama Yesus, semuanya berakhir di neraka hanya karena satu alasan: mereka tidak dibaptis selam. Betapa sesatnya penghakiman itu!
  
Lihatlah betapa soal seremoni baptisan ini telah mencabik-cabik roh persaudaraan di antara kita, sesama orang percaya kepada Kristus Yesus.

Seremonialisme kelahiran baru, dimana dipercaya bahwa kelahiran baru diawali dengan upacara baptisan, juga menjadi dasar teologi seorang penyesat raksasa dari Korea Selatan, Sun Myung Moon, pendiri gereja Unification Church yang pengikutnya ada di seluruh dunia. Ia mengajarkan bahwa penyucian manusia dari dosa terjadi oleh pembaptisan. Hanya mereka yang dibaptis yang beroleh keselamatan. Konsekuensi dari ajarannya itu, seolah Allah telah mengubahkan air baptisan itu sebagai sungai surgawi yang menguduskan manusia dari segala kecemaran.

Ini adalah ajaran yang berakar pada mistik Timur. Mungkin anda tahu, dalam banyak agama mistik Timur, selalu ada yang disebut tempat-tempat suci, entah itu gunung suci, termasuk juga sungai suci. Di dalam agama Hindu, sungai suci mereka adalah Gangga, dan siapa mandi atau dibasuh di air sungai Gangga, ia dikuduskan dari segala dosa. Penyesat dari Korea itu telah dilhami akar mistik yang sama. Lebih lanjut, ia menyebut bahwa kematian Yesus di atas kayu salib hanya memberi separuh keselamatan saja (tidak sempurna), yang harus disempurnakan dengan perbuatan-perbuatan tertentu. Ia sendiri mengklaim dirinya adalah Kristus selanjutnya, yang menyempurnakan karya penyelamatan Yesus.

Bandingkan ajaran sesat di atas dengan doktrin kita yang berkata bahwa upacara baptisan adalah awal dari kelahiran baru, atau Tanpa Baptisan Tiada Kelahiran Baru. Mengapa kita terjebak di dalam roh seremonialisme yang agamawi mengenai baptisan ini? Itu karena kita lupa arti dari baptisan, atau kalaupun kita ingat, kita tidak sungguh-sungguh menerapkannya.


Baptisan Tanda Pertobatan
Yesus memang berkata: lahir dari air. Kita semua sepakat bahwa itu artinya baptisan. Tapi setiap orang yang gagal mempertahankan arti baptisan sebagai tanda pertobatan di dalam pikirannya, tak paham bahwa itu adalah pernyataan alegoris atau perlambangan.

Baptisan itu sesungguhnya adalah simbolisasi dari pertobatan. Jadi setiap kali Yesus atau rasul menyebut kata “baptisan”, itu haruslah artinya pertobatan. Kita tidak boleh lebih dari situ, tak boleh kurang pula dari situ. Ini anda garis bawahi dulu: bahwa di masa Yesus, tanda orang bertobat adalah memberi diri dibaptis. Itulah arti sesungguhnya dari baptisan.

Jadi, ketika Yesus berkata: “lahir dari air”, Ia sebenarnya sedang mengatakan “bertobat”, secara simbolis. Ketika Ia berkata: “percaya dan dibaptis” di Markus 16:16, Ia sebenarnya sedang memaksudkan “percaya dan bertobat”. Kenapa? Sebab di zaman itu, juga zaman para rasul, sekali lagi saya nyatakan, baptisan adalah murni artinya tanda pertobatan. Mari kita lihat beberapa buktinya:

Matius 3 : 6
Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.
Pelayanan baptisan bermula dari Yohanes Pembaptis, yang membaptis orang di sungai Yordan. Yohanes Pembaptis menyerukan orang Israel untuk bertobat, dan setiap orang yang mendengar seruan itu, pergi kepada Yohanes untuk bertobat dengan cara memberi diri dibaptis.

PERHATIKAN: mereka tidak bertobat hari ini, lalu dibaptis Yohanes dua atau tiga bulan kemudian setelah mereka selesai mendapat konseling atau kursus pemuridan. Bukan. Mereka datang untuk bertobat di hadapan Yohanes, dan Yohanes membaptis mereka detik itu juga. Bertobat sekarang, dibaptis sekarang!
Sekarang coba anda jawab sendiri, sebenarnya Yohanes ini penyeru baptisan atau penyeru pertobatan? Jelas, Yohanes Pembaptis penyeru pertobatan atau penyesalan dari segala dosa. Itulah yang menjadi inti sari pelayanannya. Jadi kita tidak boleh keliru dalam memahami pelayanan Yohanes seolah-olah dia adalah penyeru sakramen baptisan. Dia penyeru pertobatan!

Sekarang kita memeriksa apa yag dilakukan para rasul Yesus Kristus.

Kisah Para Rasul 2 : 41
Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. 
Ini adalah KKR pertama yang pernah terjadi, persis di Hari Pentakosta. Petrus berkhotbah pada kerumunan massa yang berkumpul untuk menyaksikan keanehan yang terjadi -dimana para pengikut Kristus terlihat seperti orang-orang mabuk- oleh pencurahan Roh Kudus.

Oleh urapan Roh, Petrus berhasil menggetarkan seluruh orang dengan khotbah Injil Kristus yang ia sampaikan. Dengan hati yang sangat terharu, kerumunan itu bertanya pada Petrus apa yang harus mereka lakukan untuk beroleh anugerah keselamatan tersebut. Dan Petrus menjawab: “Bertobatlah dan beri dirimu dibaptis di dalam nama Yesus Kristus”. Kerumunan itu menurut, lalu hari itu juga mereka dibaptis sebagai tanda pertobatan mereka, dan jumlah petobat itu sebanyak tiga ribu jiwa. Hari itu juga. Bertobat sekarang, dibaptis sekarang!
Berapa lama kira-kira durasi khotbah Petrus? Melihat dari rangkuman khotbahnya, sepertinya paling lama ia berkhotbah satu jam. Sehabis berkhotbah itu, para hadirin langsung merespon untuk bertobat, dan dibaptis saat itu juga. Mengingat jumlah yang turut dibaptis sebanyak tiga ribu orang, tampaknya justru upacara baptisan itu yang makan waktu lebih dari satu jam –mungkin sampai sore, sebab lokasi Petrus berkhotbah tidak berada di tepi sungai besar, melainkan di suatu tempat di dalam kota Yerusalem. Kemungkinan besar, seremoni pembaptisan itu dilakukan di dalam kolam pemandian, sehingga barisan antrian tentu panjang. Itulah sebabnya Alkitab menerangkan dan pada hari itu juga.

Selanjutnya kita lihat apa yang dilakukan oleh Filipus.
Kisah Para Rasul 8 : 38
Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia.

Anda sudah tahu kisah ini. Ada seorang sida-sida dari Etiopia sedang dalam perjalanan naik kereta, sambil membaca Kitab Nabi Yesaya. Filipus –kemungkinan besar berjalan kaki- mendekati kereta itu. Sambil ia berjalan di samping kereta itu, sambil ia menceritakan Injil Yesus. Sida-sida itu begitu memperhatikan dan akhirnya percaya, lalu ia meminta dibaptis (bertobat kepada Kristus Yesus) saat itu juga. Dan Filipus melakukannya. Berapa lama Filipus memberi penjelasan? Melihat dari rangkuman khotbahnya, katakanlah satu atau dua jam. Yang pasti, upacara baptisan itu terjadi saat itu juga. Bertobat sekarang, dibaptis sekarang!
Sekarang kita lihat juga apa yang dilakukan oleh Paulus:

Kisah Para Rasul 16 : 33
Pada jam itu juga kepala penjara ituk membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis.
Ini adalah kisah dimana Paulus dan Silas malam itu sedang terpenjara karena Injil. Malam itu mereka menyanyi memuji Tuhan, lalu terjadilah gempa bumi yang hebat, yang membuat sendi-sendi penjara itu goyah hingga semua pintu dan semua belenggu para tahanan terlepas. Kepala penjara yang terbangun oleh gempa, saat itu juga menilik keadaan penjara. Ia demikian takut melihat semuanya sudah terbuka. Ketika ia hendak bunuh diri, Paulus mencegahnya, lalu menceritakan Injil Yesus kepadanya. Dan lihat, ayat di atas berkata pada jam itu juga – yaitu jam dimana Paulus menginjilinya, dan seketika itu juga –usai Paulus selesai berbicara, ia dan keluarganya dibaptis. Bertobat sekarang, dibaptis sekarang!
Demikianlah di zaman Yesus dan para rasul, baptisan benar-benar perlambang lahiriah dari pertobatan, yang dilakukan seketika itu juga, yaitu pada saat orang memutuskan bertobat. Hal itu membuat setiap kali orang di zaman itu berkata: “Kemarin sore dia memutuskan untuk bertobat”, secara otomatis terbentuk gambaran di benak pendengar bahwa kemarin sore orang itu dibaptis. Atau sebaliknya, setiap kali orang di zaman itu berkata: “Berilah dirimu dibaptis,” secara otomatis pendengar tahu arti rohaniahnya yaitu “Bertobatlah.”

Bandingkanlah itu dengan pernyataan berikut: “Dia sudah diwisuda”, maka sudah pasti akan terbentuk definisi di benak pendengar yaitu: “Dia sudah lulus kuliahnya.” Juga ketika orang berkata: “Dia sudah lulus kuliahnya,” maka sudah pasti orang membayangkan orang itu telah diwisuda. Wisuda adalah tanda lahiriah dari lulus kuliah.

Sekarang anda sudah mengerti, bahwa setiap kali di dalam Injil, Yesus berkata: dibaptis, itu artinya bertobat, dan setiap kali dikatakan: bertobat, itu artinya adalah dibaptis (pada saat yang bersamaan). Mari kita buat semuanya menjadi terang:

Yohanes 3 : 5
Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Dengan kata lain:
Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak bertobat dan (dilahirkan dari) Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Markus 16 : 16
Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Dengan kata lain:
Siapa yang percaya dan bertobat akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Akan tetapi saya harus memberitahukan sekali lagi, tanpa anda mengerti bahwa di zaman Yesus, bertobat = dibaptis, dibaptis = bertobat, yang dilakukan pada detik yang bersamaan, maka anda tidak akan sanggup menerima kenyataan itu. Kenapa? Sebab pikiran anda selama ini dikuasai oleh doktrin SEREMONIALISME.
Kesesatan  Kita: Baptisan Adalah Langkah Berikutnya Setelah Bertobat
Di masa sekarang, dimana kekristenan telah dirantai oleh sistem-sistem liturgi agamawi, yang mendegradasi ajaran Terang Kristus menjadi Sistem Agama Kristen, pertobatan telah terpisah dari baptisan. Kita menyebut baptisan itu sakramen, yang artinya seremoni sakral, entah dari kitab mana kita mengambil istilah itu. Sungguh itu hanya bisa-bisanya manusia, guru-guru Sistem Agama Kristen (ahli teologi) dari zaman yang disebut Zaman Kegelapan Gereja yang agamawi itu, dan kita mengamininya tanpa dasar, sehingga tanpa sadar kita telah menciptakan kitab suci tambahan.

Di satu kubu, khususnya yang mempraktekkan baptisan bayi, baptisan sudah mirip sebagai tanda inagurasi, tanda pelantikan, untuk menjadi anggota gereja, tak peduli orangnya bertobat atau tidak. Baptisan telah berubah dari pernyataan pertobatan menjadi upacara seremonial agama -dan ini menyedihkan.

Di kubu yang mempraktekkan baptisan selam, juga umumnya salah kaprah. Demi mempertahankan status sakramen tadi, baptisan bukan lagi tanda pertobatan namun telah menjadi langkah berikutnya dari pertobatan.

Baptisan kita sebut sakramen sedangkan pertobatan bukan
, sehingga dengan demikian,  kita memisahkan keduanya dan memberi definisi yang tidak alkitabiah pada baptisan. Hari ini kita mempertobatkan orang kepada Yesus, tapi baru membaptisnya beberapa bulan kemudian, menurut jadwal gereja, setelah mereka mengikuti suatu rangkaian pemuridan. Kita membuat prasyarat tambahan bagi para peserta baptisan, bukan lagi sebatas keputusan bulat untuk bertobat.

Itulah sebabnya saya katakan bahwa dalam prakteknya, baptisan selam yang kita praktekkan pun sesungguhnya bukan lagi tanda pertobatan sebagaimana Alkitab ajarkan, tetapi adalah langkah berikutnya setelah pertobatan. Bertobat sekarang, dibaptis belakangan.
Kenapa dibaptis belakangan? Karena harus menunggu jadwal kesibukan gereja dan Pak Pendeta, juga para peserta harus lebih dulu mengikuti semacam kursus pemuridan yang berminggu-minggu. Tidak dapat tidak, ini juga “alkitab tambahan”. Agamawi!

Kita membiarkan semua orang percaya menginjil dan mempetobatkan orang berdosa, tetapi tidak membiarkan mereka untuk membaptis, karena itu tadi: baptisan itu sakramen, bertobat bukan sakramen. Dari situ saja sudah jelas bahwa kita menganggap kedua peristiwa itu berbeda. Soal menginjili dan mempertobatkan orang, siapa saja boleh, karena itu bukan sakramen. Soal pembaptisan, kita berkata: harus oleh pendeta, yang sudah punya lisensi, punya sertifikat sebagai pendeta, karena itu sakramen.

Ironisnya, ketika kita telah memisahkan peristiwa bertobat dan dibaptis, kita masih saja berkata: Tanpa Baptisan, Tiada Kelahiran Baru. Tidak lahir baru, tidak selamat.

Kesimpulan kita, yang dibutakan roh agamawi seremonialisme ini: Jika anda tidak mengikuti seremoni baptisan selam, anda tidak akan selamat. Tanpa sadar, kita mengajarkan bahwa sumber keselamatan manusia ialah perbuatan sendiri, bukan kasih karunia dari peristiwa salib di Golgota.

Kadang kala, gereja kita hanya menjadwalkan upacara baptisan itu dua kali dalam satu tahun, supaya ramai-ramai maksudnya, sedangkan penginjilan untuk mempertobatkan silakan dilakukan jemaat-jemaat yang terpanggil setiap hari. Sementara itu mereka yang telah bertobat tadi, karena belum dibaptis, tetap kita sebut belum lahir baru.

Aneh sekali. Kita mempertobatkan manusia kepada Kristus, tapi bilang: "Tunggu dulu lahir barunya lima bulan lagi, karena Pak Pendeta sibuk banget, nggak sempat membaptis." Lalu jemaat polos itu bertanya: "Tapi Pak, kalau saya keburu mati, padahal saya belum dibaptis untuk lahir baru, gimana dong? Batal dong saya masuk sorga, masuk neraka dong saya...??" Dengan gaya yang agamawi, kita bilang: "Ya makanya sebelum dibaptis jaga kesehatan dulu baik-baik, jangan sampai mati dulu. Minta Tuhan jagai!" Doktrin yang begini sudah sangat mengacaukan sekali.

Dan itu semakin kacau oleh penambahan birokrasi untuk pembaptisan ini. Ada begitu banyak gereja pada hari-hari ini mempersyaratkan orang yang ingin dibaptis supaya melampirkan surat ijin dari orang tua bahkan pula surat pengantar pindah gereja dari gerejanya yang lama. Itu sangat sulit, lebih-lebih bagi para perantau maupun mereka yang berasal dari agama seberang. Sudah begitu, gereja ini tetap saja berkata: jika tidak dibaptis selam, tidak lahir baru = tidak selamat.

Lihat, untuk beroleh keselamatan dari Kristus saja, harus memenuhi syarat-syarat birokrasi manusia. Benarkah ini yang diajarkan oleh Tuhan kita..??
Semua kesalahan itu sungguh menyedihkan dan memuakkan. Saya tidak tahu akan berakhir dimana semua orang yang agamawi di kehidupan kekal nanti. Jika anda selama ini salah satu dari mereka, dengan kasih yang sungguh saya mengharapkan anda rela bertobat.


Mari Kembalikan Pada Teladan Injil Kristus

Mestinya ketika orang bertobat, saat itu juga ia harus dibaptis, seperti yang dicontohkan para rasul, supaya tetap terpelihara makna baptisan itu sebagai tanda pertobatan. Dan ijinkan setiap orang yang menginjili petobat itu untuk membaptisnya. Artinya, kalau anda mempertobatkan seseorang, anda mestinya harus membaptisnya saat itu juga. Sayangnya, tidak akan ada gereja di Indonesia -birokrasi agamawi yang payah itu- yang akan mengakui baptisan yang anda lakukan itu. Mereka akan menuntut anda: "Atas nama gereja mana kamu baptis dia? Kamu pendeta denominasi mana, mana surat kuasamu dari pendetamu? Mana sertifikat baptisan orang ini? Baptisanmu ini baptisan liar! Kamu sesat!".

Akibatnya, banyak anak-anak Tuhan yang telah mati tidak dibaptis dengan benar di segala zaman, termasuk zaman Martin Luther, John Wesley, Nommensen, dan ratusan juta lainnya, sejak kekristenan telah berubah dari Kerajaan Allah menjadi birokrasi agama.

Oleh sebab itu, sudah semestinya pejabat-pejabat resmi gereja mulai memurnikan kembali ajaran mereka mengenai baptisan. Semua gereja harus kembali kepada makna baptisan yang alkitabiah, yakni sebagai tanda pertobatan, dan bukan ritual yang disebut sakramen, atau pun langkah berikutnya dari pertobatan, yang sama sekali tidak alkitabiah. Baptisan bayi boleh saja tetap dijalankan, tetapi namanya harus diganti, bukan lagi baptisan melainkan acara penyerahan anak, sebagaimana kebiasaan orang Israel di masa dulu. Lagi pula, bukankah Tuhan juga berkata supaya kita membawa anak-anak itu kepada-Nya?

Mari membongkar rantai-rantai agamawi dari dalam gereja. Tuhan Yesus akan segera datang. Buang istilah sakramen dari benak gereja, supaya kita tidak membuat syarat-syarat agamawi tertentu menurut pangkat-pangkat manusia untuk mengakui seseorang layak membaptis atau tidak. Fokus mata Tuhan tertuju pada si petobat (peserta baptis), apakah ada hati yang sungguh atau tidak, bukan kepada layak tidaknya si pembaptis dari segi umur atau jabatan.

Jadi, biarkan setiap orang yang menginjili membaptis si petobat. Atau jika hal itu dinilai terlalu radikal dan rawan kekacauan, kenapa tidak tunjuk saja penatua lingkungan atau koordinator kelompok sel, atau pelayan-pelayan terlatih, sebagai pengerja resmi yang diakui untuk membaptis, sehingga si orang yang menginjili bisa segera menghubungi mereka tatkala berhasil mempetobatkan seorang jiwa secepatnya, tanpa harus menunggu penjadwalan agenda kerja gembala sidang lagi. Sekalipun sulit untuk dilakukan pada jam yang sama, berupayalah membangun kinerja gereja anda sedemikian rupa sehingga peristiwa pembaptisan sedapat-dapatnya dilangsungkan pada hari yang sama dengan pertobatan orang itu kepada Kristus Yesus.

Buanglah diskusi-diskusi mengenai sakramen baptisan. Istilah yang tidak ada dalam Alkitab ini membuat kita terjebak pada bayangan obsesi seolah-olah baptisan adalah sebuah seremoni yang harus dilakukan dengan tatacara yang sangat agung, penuh lambang-lambang agama, penuh khusuk, jubah-jubah putih, serta urutan-urutan liturgi protokoler yang mencekam. Semua itu kesakralan palsu.

Jika anda saya minta membayangkan bagaimana suasananya saat Yohanes Pembaptis membaptis ratusan orang di sungai Yordan setiap hari, atau saat Petrus dkk. membaptis ketiga ribu petobat baru di Yerusalem itu, seperti apa anda membayangkannya?

Saya membayangkannya sangat hiruk pikuk, penuh senyuman sukacita, penuh pelukan kasih, penuh tegur sapa dan sendau gurau. Petrus pasti banyak tertawa atau tersenyum saat membenamkan orang-orang itu ke dalam air, dan orang-orang itu mungkin ada juga yang menggodai Petrus lalu berpelukan penuh kasih sukacita, dan tentu saja air mata haru. Tidak ada liturgi atau protokoler yang kaku disana, tidak ada jubah-jubah seragam –melainkan pakaian yang melekat di badan saja.

Meski keteraturan itu perlu, kesakralan tidak diukur Tuhan dari keteraturan liturgi yang dibuat manusia, melainkan dari kesungguhan hati yang Allah temukan di tempat itu. Di dalam Tuhan, segala aktivitas yang kita lakukan adalah sakramen atau aktivitas kudus. Makan adalah kudus, bersendau gurau adalah kudus, tidur adalah kudus, bernyanyi adalah kudus, berdoa adalah kudus. Sebab bukan karena kita melakukannya dengan “agung dan khikmat” menurut citarasa estetika manusia yang membuatnya menjadi kudus, tetapi karena kita melakukannya dari hati dalam hadirat Yang Maha Kudus. Hadirat Tuhanlah yang menguduskan, bukan kekhikmatan liturgi. 

Jadi segala kegiatan kita di dalam Tuhan adalah sakramen, adalah sakral. Karena itu, istilah sakramen ini tidak perlu dihubung-hubungkan lagi dengan seremoni tertentu. Buang saja istilah itu sebab istilah itu menggoda jiwa agamawi kita.
Baptisan Adalah Langkah Pertama Kekristenan


Sekarang tentang kebiasaan agamawi banyak gereja, yang membaptis orang setelah orang itu menjalani masa pemuridan beberapa bulan.

Sebagaimana Alkitab katakan, baptisan itu tanda pertobatan atau penyerahan hidup kepada Tuhan Yesus, Juruselamat dunia, yang telah mengorbankan diri-Nya di kayu salib untuk pengampunan dosa manusia. Tidak lebih. Tidak kurang. Jadi jangan menganggap bahwa baptisan itu adalah anak tangga tertinggi dari kekristenan, sehingga orang harus benar-benar dipersiapkan dulu secara matang, termasuk pengetahuan Alkitabnya, barulah orang itu boleh dibaptis.

Kita sudah melihat apa yang terjadi di zaman para rasul. Sesungguh-sungguhnya, baptisan itu justru adalah anak tangga terbawah atau dasar. Baptisan, yaitu pertobatan, semestinya adalah langkah pertama orang-orang memulai perjalanan hidupnya bersama Yesus. Langkah berikutnya adalah pengajaran, pemuridan, pendewasaan, pengujian iman, ketekunan, dan seterusnya.

Para pendeta di zaman agamawi ini menahan dirinya untuk membaptis seseorang karena ia ingin orang itu matang dulu secara pemahaman rohani. Itu salah besar. Lihat apa yang dilakukan para rasul, mereka membaptis orang di saat pertama orang itu menyatakan bersedia terima Yesus, bukan setelah mereka benar-benar telah mengerti agama kristen, atau setelah mereka membuktikan perubahan karakter.

Coba bayangkan lagi KKR Pertama Petrus di Yerusalem, atau saat Paulus membaptis sang kepala penjara dan seisi rumahnya: sedalam apa orang-orang itu telah memahami kebenaran firman Tuhan? Mereka sebelumnya bahkan belum tahu apa-apa tentang Yesus, kecuali mendengar nama dan ketokohan-Nya saja. Ketika mereka dibaptis, mereka hanya mendengar khotbah kurang lebih satu jam, bahkan menjadi khotbah pertama yang mereka pernah dengar tentang arti salib Yesus Kristus. Mereka belum pernah membaca ayat Injil satupun, sebab saat itu Injil belum ditulis. Bisa kita katakan, ketika mereka dibaptis oleh para rasul, pemahaman iman kristen mereka masih NOL. Hanya hati mereka saja yang disentuh oleh khotbah itu. Modal mereka hanya satu, mereka percaya, mereka tergerak, mereka tersentuh, dan mau menyerahkan diri pada Yesus yang telah mengampuni mereka. Soal kedewasaan rohani ataupun pemahaman doktrin Kristen, mereka benar-benar nol.  Tapi lihat, para rasul tidak menunda untuk membaptis mereka.

Kenapa para rasul tidak menunda membaptis mereka? Sebab baptisan itu memang semata-mata hanyalah simbol dari pertobatan. Orang-orang itu sedang dipertobatkan melalui simbolisasi: pembaptisan di dalam nama Yesus. Judul acara mereka adalah: PERTOBATAN, bukan “upacara sakramen baptisan kudus.”


Sekarang, s
ebagai pengurus gereja yang selama ini telah dirantai oleh protokoler liturgi, birokrasi dan paham-paham agamawi seputar upacara baptisan, kita merasa asing dengan apa yang dilakukan para rasul itu. Saya yakin anda sendiri merasa asing dengan tindakan mereka itu. Kita melakukan hal yang jauh berbeda dengan mereka. Kita membuat syarat-syarat sendiri. Kita ditipu oleh imajinasi mistik tatkala mendengar istilah sakramen. Kitakah yang benar atau para rasul itu? Mari kita bertanya pada Tuhan Yesus saja.

Kita tinjau kembali amanat agung Tuhan Yesus, yaitu amanat supaya kita menjangkau segala bangsa menjadi murid-Nya atau pengikut-Nya. Kita akan lihat berada di tahap mana baptisan/pertobatan itu berada.

Matius 28 : 19-20
Karena itu pergilah (= penugasan resmi kepada kita),
jadikanlah semua bangsa murid-Ku (=tujuan kita diutus)
dan baptislah mereka di dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (=langkah awal dari rangkaian tugas kita, yang artinya kita sudah tahu yaitu pertobatkanlah mereka),
dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu (=langkah seterusnya).
Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.


Dari amanat itu, kita sekarang tahu bahwa baptisan (perkara lahiriah dari pertobatan), ternyata ada di tahap dasar dari kehidupan kekristenan. Setelah orang dibaptislah baru dia diajar, bukan sebaliknya.

Dengan demikian, ternyata para rasul itulah yang benar, yaitu membaptis orang sekalipun pemahaman rohani orang itu masih NOL, semata-mata hanya karena orang itu bertobat atau bersedia menerima kasih karunia Yesus Kristus. Para rasul itu membuat segalaya menjadi jelas, bahwa baptisan itu hanyalah tanda pertobatan saja, yaitu tanda diperdamaikannya orang itu dengan Allah, tanda menerima kasih karunia Allah di dalam kematian Yesus Kristus.

Sebaliknya kita, si penganut agamawi yang buta ini, telah membuatnya terbalik: Bertobat dulu, baptis belakangan, setelah si petobat paham dasar-dasar hukum teologi kekristenan.


Gereja yang memuridkan seseorang sebelum membaptisnya selalu beralasan: “Kami tidak ingin baptisan kudus itu menjadi murahan dan sia-sia, karena seorang petobat bisa saja berbalik pada kehidupan lama jika belum dibekali dulu dengan pemahaman yang kokoh sehingga sia-sialah baptisan itu nantinya.”


Alasan itu sama sekali tidak alkitabiah. Benar bahwa petobat baru rentan kembali ke kehidupan lama. Tapi itu bukan alasan untuk menolak membaptisnya pada saat ia bertobat. Pikiran itu justru bukti bahwa anda memisahkan kedua peristiwa itu.

Jauhkan pikiran anda dari imajinasi seolah-olah baptisan adalah sebuah “peristiwa sakral dan mistis”. Orang itu sedang bertobat dan menerima kasih karunia pengampunan Yesus, dan kita melayaninya dengan cara membaptis. Cukupkan pikiran anda sampai di titik itu, supaya anda tidak terjebak pada pola pikir yang membedakan peristiwa pertobatan dengan pembaptisan.

Jangan bebal. Soal dia kelak jatuh dalam dosa lagi, bahkan bukankah kita sendiri –sang pembaptis- masih bisa jatuh dan binasa pada akhirnya? Itulah gunanya pemuridan dan pengajaran, yang menguatkan anak-anak Allah, serta ketekunan di dalam hadirat Tuhan, setelah mereka menerima Yesus. 



Markus 16 : 16


Saya ingin membicarakan sekali lagi ayat ini, karena ayat inilah yang menjadi pegangan bagi mereka yang mempraktekkan baptisan bayi, juga pegangan mereka yang menyerukan baptisan selam. Ketika mereka membaca ayat ini, sementara mereka telah berada pada zaman dimana secara teologis baptisan telah dipisahkan dari pertobatan, mereka tetap percaya bahwa orang yang tidak dibaptis tidak akan selamat, atau baptisan itulah awal kelahiran baru.

Kita baca ayat itu:

Markus 16:16
Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.

Kalaupun yang dimaksud dengan "dibaptis" dalam ayat itu benar-benar adalah seremoninya, dan bukan alegori dari pertobatan, sekarang coba anda teliti sekali lagi, adakah kelompok kristen yang tidak diterangkan oleh ayat itu?

Lihat, ayat itu hanya berbicara tentang kelompok orang yang percaya dan dibaptis, serta kelompok orang yang tidak percaya.
Masih adakah kelompok lainnya dari orang kristen? Tentu saja masih, dan banyak sekali, yaitu kelompok percaya dan bertobat tapi tidak dibaptis, maupun kelompok dibaptis tapi tidak hidup sebagai orang percaya. Markus 16:16 tidak menjelaskan nasib mereka. Apakah ada bagian lain dari Injil yang menjelaskannya? Ada. Untuk kelompok percaya, bertobat tapi tidak dibaptis, misalnya apa yang kita kutip tentang perempuan berdosa yang mengurapi kaki Yesus, serta orang yang tersalib di sebelah kanan-Nya.

Mengapa seorang percaya dan bertobat bisa tidak dibaptis?
1. Karena keadaan yang tidak memungkinkan lagi. Misalnya, orang yang tersalib di sebelah kanan Yesus.
2. Bertobat menjelang nafasnya yang terakhir tanpa sempat dibaptis. Misalnya: orang-orang sekarat di rumah sakit atau medan perang yang diinjili lalu mati setelah berdoa pertobatan.
3. Tidak ada yang membaptisnya. Misalnya seorang petobat yang tinggal di tengah-tengah kaum yang menolak Yesus, sementara ia tidak mengenal satu pun pendeta kristen di daerahnya.
4. Tidak sempat dibaptis. Misalnya, dia petobat beberapa bulan lalu, tapi tidak segera dibaptis pendeta gerejanya karena jadwal sibuk pak pendeta, lalu dia meninggal dunia.
5. Pendetanya atau pemimpin-pemimpin gerejanya tidak mempraktekkan baptisan (yaitu baptisan yang benar), sehingga ia tidak mengerti atau masih dibingungkan akan doktrin mengenai baptisan, ketika ia mati.


Dilahirkan Kembali oleh Perkara Lahiriah atau Perkara Rohaniah?

Saudara..
Alangkah idealnya jika baptisan itu bersamaan dilakukan pada saat pertobatan, sebagaimana yang Allah kehendaki, yang diamanatkan oleh Kristus, serta yang dicontohkan oleh para rasul. Sebab keduanya adalah satu perkara yang sama, yakni pertobatan, dimana baptisan menjadi tanda lahiriahnya.

Sayangnya, gereja telah lama memisahkan keduanya. Sekarang, karena kita dipaksa oleh sistem agamawi gereja untuk menjalani pemisahan itu, kita harus tegas memahami, manakah yang menyelamatkan: perkara lahiriahnya atau perkara rohaniahnya?

Mari kita dapatkan jawabannya dari pertanyaan ini: ada seorang dibaptis tapi tidak benar-benar bertobat –mengerjakan perkara lahiriah tapi tidak perkara rohaniah; dan ada seorang lagi benar-benar hidup dalam pertobatan tapi tidak pernah dibaptis –mengerjakan perkara rohaniah tapi tidak perkara lahiriah. Menurut iman kristen anda, manakah dari keduanya yang selamat apabila mereka mati pada hari itu juga?

Jadi, jikapun manusia menceraikan keduanya, percayalah bahwa keselamatan kita ialah karena kita bertobat dan percaya kepada Kristus Yesus (Ingat kembali Lukas 7 : 50).

Baptisan hanyalah tanda lahiriah pertobatan, tidak lebih dan tidak kurang. Itu artinya, pertobatan adalah perkara utamanya. Seremoni baptisan adalah perkara lahiriah, sedangkan pertobatan adalah perkara rohaniah. Orang bisa dibaptis meskipun tidak sungguh-sungguh bertobat. Tetapi pertobatan, sekalipun tidak disertai tanda lahiriahnya yaitu baptisan, tetaplah sebuah pertobatan.

Penebusan segala dosa kita oleh salib Yesus itu sempurna. Tidak ada perbuatan seremoni apapun yang bisa kita tambahkan untuk melengkapinya. Sehingga barangsiapa berbalik dan berseru kepada Yesus, dia dengan pasti diselamatkan.

Baptisan bukanlah suatu perkara yang berdiri sendiri. Ia hanyalah bahasa lambang dari sesuatu. Jika yang dilambangkannya itu tidak ada, maka itu lambang yang kosong.
Sama seperti batu nisan atau bangunan makam dibuat, adalah lambang bahwa ada orang yang dikuburkan dibawahnya di dalam tanah. Tetapi jika tidak ada mayat yang pernah dikuburkan dibawahnya, benarkah batu nisan dan bangunan makam itu adalah kuburan? Jelas itu hanya sebuah tipuan.

Tetapi, jika di dalam tanah itu benar ada mayat yang dikuburkan, namun tidak dibuatkan batu nisan dan bangunan makam, masih dapatkah tempat itu disebut kuburan? Sebenarnya masih, akan tetapi orang-orang tidak tahu menahu.

Jika demikian, manakah yang paling hakiki dari defenisi sebuah kuburan: ditempat itu ada orang mati dikuburkan meski tanpa batu nisan, atau ada tanda batu nisan di atas tanah tanpa orang mati dikuburkan di bawahnya?

Batu nisan itu adalah gambaran baptisan, tanda lahiriah. Mayat yang terkubur dalam tanah adalah gambaran pertobatan, perkara rohani yang tersembunyi di dalam hati.

Artinya, ketika gereja anda menganut pemisahan pertobatan dengan baptisan, maka ketahuilah, perkara yang menyelamatkan ialah perkara rohaniahnya, yaitu pertobatan. Yesus itulah KESELAMATAN. Barangsiapa datang kepada-Nya, ia datang pada KESELAMATAN. Barangsiapa tinggal di dalam Dia, dia sudah tinggal di dalam KESELAMATAN.

Hanya saja, tanda itu perlu, dan dikehendaki oleh-Nya. Kalaupun selama ini tanda itu belum anda dibuat, belum terlambat untk membuatnya.

Jadi, baptisan hanyalah upacara lahiriah, sebagai tanda bahwa kita menerima kasih karunia Yesus, bahwa kita telah turut dikuburkan dalam kematian-Nya di kayu salib Golgota. Baptisan itu adalah batu nisan dan bangunan makam kita, sebagai tanda pengingat bagi semua orang bahwa kita sudah mati dan dikuburkan (sudah bertobat).

Sekarang, saya menyarankan ini dengan sangat: jikalau anda mendapat kesempatan untuk dibaptis secara benar (selam) –sekalipun anda sudah bertobat- maka janganlah abaikan kesempatan itu, berilah dirimu dibaptis. Baptisan itu dikehendaki oleh Bapa dan  biarlah kita gemar mengerjakan semua kehendak-Nya, entah yang rohaniah entah yang lahiriah.

Jadi orang-orang di gereja yang telah lama bertobat tetapi belum dibaptis, kita dorong mereka untuk turut dibaptis juga. Akan tetapi sejak hari ini kita tidak akan menghakimi saudara-saudara kita lagi dengan naif bahwa mereka pasti tidak selamat hanya karena belum dibaptis, sebab siapa tahu mereka memang benar-benar sudah percaya dan bertobat (lahir baru, atau manusia baru).

Hanya mereka yang tidak memisahkan pertobatan dengan baptisan sebagai dua perkara yang berbeda yang bisa memahami dengan benar firman yang berkata: barangsiapa percaya dan dibaptis, dia selamat. Mereka yang menganut pemisahan kedua hal itu, akan terjerumus pada kesesatan roh agamawi seremonialistik.

Tetapi apabila kita tetap mempraktekkan pemisahan, dimana kita tidak mengijinkan jemaat biasa membaptis orang yang mereka pertobatkan saat itu juga, sebenarnya tidak menjadi persoalan besar lagi apabila kita tidak menganut Tanpa Baptisan Tak Ada Kelahiran Baru. Ini seumpama mengubur mayat dulu tanpa meninggalkan tanda nisan, baru membuat batu nisan dan bangunan makam belakangan hari. Sebab ada juga kasus dalam Kisah Para Rasul dimana orang-orang telah lebih dulu lahir baru oleh Roh Kudus barulah mereka dibaptis belakangan sebagai tanda kelahiran baru itu.

Kisah Para Rasul 10 : 46-48
Sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu kata Petrus: "Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?" Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka.


Yesus sendiri tetap datang kepada Yohanes dan memintanya untuk membaptis-Nya, padahal Ia tidak membutuhkan pertobatan atau kelahiran baru –karena Dia sendirilah sumber kelahiran baru itu. Yesus melakukannya semata-mata untuk menunjukkan kepada kita bahwa tanda lahiriah kematian manusia lama itu, yaitu baptisan, memang dikehendaki oleh Bapa-Nya.

Kiranya memberkati dan memulihkan.
Immanuel.

Bao Panigoran
(Kunjungilah juga www.baopanigoran.blogspot.com)

    Choose :
  • OR
  • To comment
3 komentar:
Write komentar